Forum Pemerhati Adat Budaya Nusantara Menemui Karaeng Marusu
Oleh TARGET BERITA.COM | Maros, 22 Juni 2025
Nyala yang Tak Pernah Padam
Di tengah sunyi dan anggun bangunan bersejarah Balla Lompoa—istana adat peninggalan Kerajaan Marusu—tradisi dan nilai-nilai adat terus dijaga. Meski kekuasaan kerajaan telah lama diserahkan kepada negara, semangat adat tak pernah benar-benar padam.
Drs. Andi Abdul Waris Tajuddin Karaeng Sioja, M.Pd, dengan gelar Karaeng Marusu, adalah simbol hidup dari kontinuitas itu. Ia menyambut para tamu di pagi hari yang tenang dengan penuh keramahan dan kebijaksanaan.
“Setelah kerajaan Marusu bergabung ke dalam NKRI, kekuasaan memang kami serahkan. Tapi tidak dengan adat dan budaya. Itu tetap kami pegang,” ucapnya
Peran Pemangku Adat Kini
Karaeng Marusu menegaskan bahwa pemangku adat bukanlah raja dalam pengertian kekuasaan politik. Mereka adalah pelaksana nilai-nilai kultural di masyarakat, penjaga tata adat dan moral sosial.
“Kami tidak memerintah seperti dulu. Tapi kami tetap dihormati, karena kami mewakili akar sejarah dan keseimbangan budaya,” tuturnya.
Enam pemangku adat di wilayah Marusu masih menjalankan fungsi ini, walau tanpa fasilitas, gaji, maupun perhatian dari pemerintah.
Tradisi yang Bertahan
Meski tanpa dukungan negara, beberapa ritus adat tetap lestari. Appalili, prosesi memohon restu sebelum menanam padi, serta Katto Boko, ritual pengesahan lahan, masih dilakukan oleh masyarakat. Begitu pula tradisi makan bersama dalam suasana gotong royong.
“Apa yang ada di rumah, itulah yang dibawa. Kita makan bersama. Begitu cara kami merawat kekeluargaan,” kata Karaeng.
Lahirnya Forum Adat Budaya Nusantara
Dalam kunjungan itu, hadir pula para pengurus Forum Pemerhati Adat Budaya Nusantara (FPABN). Forum ini didirikan pada 15 Juni 2025 oleh 41 tokoh adat di Batangase, dan kini bermarkas di Balla Lompoa Batubassi.
Muh Tahir, Ketua Forum, menyampaikan misi besar mereka: menjadi penjaga nilai budaya, mediator konflik adat, dan penguat identitas lokal di tengah derasnya arus globalisasi.
“Kami datang bukan hanya meminta restu, tetapi juga bimbingan. Forum ini lahir dari keresahan: adat mulai dilupakan,” ujarnya.
Sumpah Sunyi dalam Segelas Air
Di penghujung acara, Karaeng Marusu memberikan segelas air putih kepada setiap pengurus forum. Bukan sekadar minuman, tetapi lambang restu dan amanah yang diwariskan turun-temurun.
“Minumlah, meski hanya seteguk. Ini bukan hanya restu saya, tapi juga doa dari para Karaeng terdahulu.”
Suasana menjadi hening. Satu per satu meneguk air itu sebagai simbol komitmen diam-diam: menjaga adat, menyalakan bara nilai, dan tidak lupa pada akar.
Pesan Persatuan dan Masa Depan
Karaeng Marusu mengingatkan bahwa adat hanya bisa bertahan jika semangat kekeluargaan dijaga. Ia mengutip pesan Bung Karno saat mengunjungi Maros: “Balla Lompoa tidak boleh kosong.”
“Kami tidak menjaganya untuk masa lalu. Kami menjaganya untuk masa depan,” katanya penuh harap.
Catatan Redaksi
Tulisan ini disusun berdasarkan kunjungan Forum Pemerhati Adat Budaya Nusantara ke Istana Balla Lompoa pada 22 Juni 2025, sebagai bagian dari upaya penguatan kelembagaan adat di Kabupaten Maros.
Penulis: Jumadi
























